"Aku dengar kau baru saja pindah rumah"
"Iya, sekarang aku tinggal di sini"
"Kenapa kau pindah?"
"Aku tidak tahan dengan bau busuk dari rumah tetanggaku"
"Siapa tetanggamu itu?"
"Singa!"
"Singa siapa? Singa Si Raja Hutan?"
"Iya, benar!"
Serigala mendekat ke semak-semak, berusaha mencari tahu siapa yang sedang berbicara, tetapi ia malah membuat keributan. Tanpa sengaja Serigala menginjak beberapa ranting kering sehingga menimbulkan suara berisik dan membuat kabur binatang-binatang yang ada di balik semak.
"Ranting sialan! Gara-gara kalian aku gagal mendapat hadiah dari Singa Si Raja Hutan karena gagal menangkap binatang-binatang yang menjelekkan namanya!", geram Serigala sambil menginjak-injak ranting kering yang ada di sekitarnya.
Tiba-tiba datanglah Harimau. Ia merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Serigala.
"Hei tetanggaku, apa yang kau lakukan dalam semak-semak itu?", tanya Harimau keheranan.
Serigala terdiam. Ia keudian memandang Harimau dan balik bertanya,
"Bisakah kau ulangi lagi pertanyaanmu?"
"Apa yang kau lakukan dalam semak-semak itu?", tanya Harimau sekali lagi
"Bukan...bukan...sebelum kalimat itu, apa yang kau katakan?", tanya Serigala
"Hei tetanggaku, apa yang ...."
"Ya! Tetangga! Tetanggaaa..aaaha...ha...ha..." potong Serigala dengan girang. Ia kemudian berlari ke dalam hutan sambil meninggalkan Harimau yang kebingungan dengan tingkah lakunya.
Ketika melintas di padang rumput, Serigala bertemu dengan Singa.
"Ss...sselamat pagi, Yang Muliaa...aa", sapa Serigala dengan terengah-engah
"Aaauuum..., siang juga Serigala! Kenapa dengan nafasmu? Apakah engkau baru saja berolah raga atau mengejar buruanmu?", tanya Singa.
"Bb...bbukan, Yang Muliaa...aa"
"Lalu?"
"Saya ingin buru-buru bertemu dengan Yang Mulia"
"Mengapa?", tanya Singa penasaran
"Saya harus menyampaikan sebuah kabar, Yang Mulia!"
"Kabar apa?"
"Kabar tentang bau busuk dari rumah Yang Mulia"
Singa terkejut. Ia bangun dan mengaum dengan keras,
"Aaauuummm...mmm, siapa yang berani menghina rumahku, Serigala?"
"Te...eetangga Yang Mulia sendiri!", jawab Serigala ketakutan
"Aaauuummm...mm, panggil mereka semua menghadapku di rumah! Aku akan menanyai mereka satu per satu, hari ini juga!", perintah Singa dengan nada marah.
"Bb...baik, Yang Mulia!", jawab Serigala sambil bergegas pergi
Tidak lama, para tetangga Singa seperti Kijang, Kambing dan Kelinci telah berkumpul di rumah Singa. Mereka semua nampak tegang.
Singa, didampingi oleh Serigala, berdiri tegak di hadapan tamu-tamunya. Ia lalu berkata,
"Aku akan bertanya tentang sesuatu kepada kalian. Jika jawaban kalian benar, maka kalian bisa keluar hidup-hidup dari rumahku. Tapi jika jawaban kalian salah, maka kalian akan menjadi tahananku, atau malah makan siangku"
Suasana hening
"Kijang!", panggil Singa
"Hatsyiii....!"
Semua binatang menoleh kepada Kelinci
"Maaf...maaf..., saya sedang tidak enak badan", jawab Kelinci sambil mengelap hidungnya.
Kijang kemudian maju menghampiri Singa
"Kijang, bau apa yang kau cium dari ruangan ini? dari rumahku?", tanya Singa.
"Ssa...ya tidak menciumm...mm bau apa-apa, Yang Mulia", jawab Kijang
"Coba kau cium baik-baik, Kijang!", balas Singa
Kijang mendongakkan kepalanya dan mencoba mengendus-endus bau yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana? Apa yang kau cium, Kijang?", tanya Singa
"Yang Mulia! Saya mencium bau wangi, sangat wangi sekali di ruangan ini", jawab Kijang dengan tersenyum
Singa tersenyum dan tiba-tiba cakar-cakarnya telah mencengkeram erat leher Kijang.
"Binatang kurang ajar! Beraninya engkau berbohong di hadapan rajamu, heh!", bentak Singa.
"Ampun, Yang Mulia..."
"Aauummm...! Tidak ada ampun! Serigala, bawa pembohong ini ke dalam tahanan!", perintah Singa sambil melempar Kijang ke arah Serigala.
Serigala tersenyum lebar. Ia kemudian menyeret Kijang ke dalam tahanan.
Ruangan terasa sepi. Penangkapan Kijang membuat suasana semakin mencekam. Tiba-tiba terdengar suara,
"Hatsyiii....!"
Semua binatang kembali menoleh kepada Kelinci
"Maaf...maaf...maaf ", jawab Kelinci sambil mengelap hidungnya sekali lagi
Singa mendengus dan kemudian bertanya kepada kambing,
"Kambing, bau apa yang kau cium dari dalam rumahku ini?".
Kambing terdiam. Ia masih memikirkan kejadian yang menimpa Kijang
"Kambing! Apa yang kau cium?", bentak Singa.
"Yang Mulia! Saya mencium bau busuk, sangat busuk sekali di ruangan ini", jawab Kambing dengan lirih
"Bau apa, Kambing?"
"Bb...bau bb..bbusuk, Yang Mulia", ulang Kambing dengan terbata-bata
Singa berjalan mendekati Kambing dan tiba-tiba...
"Brukkk..."
Singa mendorong kambing hingga jatuh ke lantai. Ia juga menindih kambing dengan cakar-cakarnya.
"Aauu...uumm! Binatang kurang ajar! Jadi engkau yang selama ini menyebarkan berita bahwa rumahku berbau busuk?", tuduh Singa dengan nada marah
"Bb..uukan ssaa..ya, Yang Mulia! Bb...uukan ssaa..ya!", bantah Kambing dengan nada memelas
"Bohong! Kamu bohong! Serigala, bawa binatang hina ini ke dalam tahanan!", perintah Singa
Senyum Serigala menyeringai lebar. Ia menggiring Kambing ke dalam tahanan sambil membayangkan makan malam dengan menu daging Kijang, Kambing dan mungkin Kelinci.
"Kelinci, ..."
"Hatsyiii....!"
Singa menatap Kelinci dengan mata melotot
"Maaf, Yang Mulia! Saya tidak bermaksud kurang ajar! Saya memang sedang tidak enak badan", kata Kelinci sambil menghapus ingus di hidungnya.
"Kelinci, bau apa yang kau cium dari ruangan ini?"
Kelinci mendongakkan kepalanya lalu berusaha mengendus-endus bau yang ada di sekitarnya
"Hatsyii...! Maaf, Yang Mulia! Hatsyii...! Saya tidak mencium bau apa pun di ruangan ini! Hatsyii....!", jawab Kelinci sambil membersihkan ingus di hidungnya.
"Kelinciii...!"
"Maaf, Yang Mulia! Hatsyii...! Saya kena pilek! Hatsyii...! Hidung saya buntu karena ingus! Hatsyii...! Jadi saya tidak bisa mencium bau apa pun di ruangan ini", jelas Kelinci.
"Ha...ha...ha...! Cerdas! ...Cerdas!...Jawaban yang cerdas, Kelinci!", tawa Singa terbahak-bahak ketika mendengar jawaban Kelinci.
"Jawabanmu benar-benar membuatku terhibur!", lanjut Singa sambil tertawa kecil, "Aku akan memberimu hadiah! Sekarang, hadiah apa yang engkau inginkan?"
"Saya mohon...Hatsyiii! Saya mohon agar Yang Mulia membebaskan Kijang dan Kambing!", pinta Kelinci
"Hah, mengapa?", tanya Singa ingin tahu.
"Mereka adalah tetangga saya, Yang Mulia! Jika saya sedang kesusahan, merekalah yang pertama kali membantu saya...hatsyiii!", jawab Kelinci
"Kalau mereka tidak ada, siapa yang akan membantu jika saya sedang kesusahan?", lanjut Kelinci
"Baiklah, aku akan bebaskan Kijang dan Kambing", jawab Singa
"Satu lagi, Yang Mulia!", sergah Kelinci
"Apa?"
"Yang Mulia adalah raja di hutan ini sehingga seharusnya rumah Yang Mulia lebih rapi dan lebih bersih dibandingkan rumah binatang-binatang yang lain!", terang Kelinci
"Jadi kau mengatakan rumahku jorok dan kotor, hah?", geram Singa.
"Bukan, Yang Mulia! Bukan! Saya hanya menyarankan agar Yang Mulia mengangkat seorang pengurus rumah tangga untuk mengatur rumah Yang Mulia", jelas Kelinci.
"Pembantu?"
"Semacam itu, Yang Mulia!"
"Bagaimana kalau dirimu, Kelinci?"
"Saya bersedia, Yang Mulia! Tetapi sebelumnya mohon pertimbangkan hal ini"
"Apa?"
"Ada beberapa kerajaan di sekitar hutan kita. Jika Yang Mulia mengangkat saya sebagai pengurus rumah tangga, maka raja-raja yang lain akan menganggap itu hal yang biasa"
"Iya, bukankah seharusnya begitu?" "Benar, Yang Mulia! Tetapi jika Yang Mulia mengangkat Serigala sebagai penguru
s rumah tangga, maka raja-raja di sekitar hutan ini akan berpikir berulang kali sebelum mencari masalah dengan Yang Mulia" "Bagaimana bisa, Kelinci ?"
"Mereka akan berpikir, jika pengurus rumah tangganya saja sudah Serigala, bagaimana rupa pengawal kerajaan? Tentunya pengawal kerajaan adalah binatang yang menakutkan dan menyeramkan daripada Serigala"
"Ha...ha...ha...! Cerdas! ...Cerdas!...Saran yang cerdas, Kelinci!", tawa Singa terbahak-bahak ketika mendengar penjelasan Kelinci.
"Aku akan menuruti semua saranmu!", tambah Singa sambil menepuk-nepuk pundak Kelinci
Sejak saat itu, Serigala menjadi pengurus rumah tangga di rumah Singa. Banyak sekali tugas yang dilakukannya sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk mengadu domba binatang-binatang di hutan.

dongeng yg bagus :)
BalasHapusGeweldig!!! Goed gedaan broer������
BalasHapus